Rabu, 05 Agustus 2026

Menjaga Akar Ideologi di Tengah Gemerlap Prestasi


Artikel ini telah tayang di https://suaramuhammadiyah.id/read/menjaga-akar-ideologi-di-tengah-gemerlap-prestasi 


Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang akan berlangsung pada 6–9 Agustus 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) bukan sekadar agenda rutin lima tahunan. Enam dasawarsa lebih bukan waktu yang singkat. Pada usia seperti itu, muktamar semestinya tidak berhenti sebagai agenda organisasi, tetapi menjadi saat untuk bertanya: masihkah Tapak Suci berjalan di jalan yang dulu dirintis para pendirinya? 

Tema "Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia" mencerminkan keseimbangan antara menjaga identitas dan menjawab tantangan zaman. Keempat kata dalam tema itu bukan slogan yang berdiri sendiri. Ia saling bertaut. Organisasi tidak mungkin mendunia bila kehilangan akar, dan modernitas hanya akan berarti apabila tidak memutus tradisi yang membentuk jati dirinya. 

Di tengah berbagai keberhasilan yang telah diraih, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah perkembangan Tapak Suci masih berjalan searah dengan tujuan kelahirannya? Ini bukan bermaksud meragukan prestasi, namun lebih untuk menegaskan pentingnya evaluasi bagi organisasi besar agar tidak terjebak dalam zona nyaman.

Karena itu, muktamar tidak cukup dimaknai sebagai forum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, muktamar adalah ruang untuk memastikan kesinambungan nilai, mengevaluasi sistem kaderisasi dan pembinaan, serta meneguhkan kembali arah perjuangan agar setiap capaian tetap selaras dengan cita-cita Tapak Suci sejak awal berdiri.

Prestasi yang Membanggakan, Identitas yang Tidak Boleh Memudar

Tidak ada alasan untuk menutup mata terhadap berbagai prestasi yang telah diraih Tapak Suci. Dalam berbagai kejuaraan, baik di tingkat nasional maupun internasional, para pendekarnya terus menunjukkan kemampuan yang membanggakan. Nama Tapak Suci dikenal sebagai salah satu kekuatan penting dalam dunia pencak silat Indonesia. Prestasi itu lahir melalui proses panjang yang melibatkan dedikasi ribuan pelatih, pendekar, pengurus, serta kader yang selama bertahun-tahun mengabdikan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan organisasi.

Keberhasilan tersebut tentu patut disyukuri. Prestasi bukan sekadar kebanggaan organisasi, tetapi juga menjadi bukti bahwa sistem pembinaan yang dibangun selama ini mampu menghasilkan atlet-atlet berkualitas. Di tengah persaingan yang semakin ketat, kemampuan mempertahankan tradisi prestasi merupakan capaian yang tidak sederhana.

Prestasi memang layak disyukuri. Namun justru pada saat itulah organisasi perlu menguji dirinya sendiri: jangan sampai keberhasilan di arena pertandingan tidak berjalan seiring dengan keberhasilan membangun kader Muhammadiyah, sehingga para pendekar tumbuh sebagai atlet yang berprestasi, tetapi belum sepenuhnya menghayati misi dakwah dan identitas ideologis Tapak Suci sebagai bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. 

Pandangan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan prestasi dengan kaderisasi. Keduanya justru harus berjalan saling menguatkan. Prestasi memberikan legitimasi dan kepercayaan publik terhadap organisasi, sedangkan kaderisasi menjamin bahwa keberhasilan itu memiliki arah dan keberlanjutan. Organisasi yang hanya mengejar prestasi berisiko kehilangan ruh perjuangannya, sementara organisasi yang hanya berbicara tentang ideologi tanpa menghasilkan karya nyata juga akan sulit memperoleh kepercayaan masyarakat.

Tapak Suci sejak awal memang tidak didirikan semata-mata sebagai perguruan pencak silat. Para pendirinya memandang bela diri sebagai media pembentukan manusia yang utuh: kuat jasmaninya, kokoh akidahnya, luhur akhlaknya, serta memiliki kesadaran untuk mengabdi kepada agama, Persyarikatan, bangsa, dan kemanusiaan. Karena itulah, hubungan Tapak Suci dengan Muhammadiyah bukan sekadar hubungan administratif atau organisatoris. Keduanya dipersatukan oleh cita-cita yang sama, yakni menjadikan dakwah sebagai orientasi utama setiap gerak perjuangan.

Kesadaran inilah yang perlu terus dipelihara. Prestasi olahraga dapat berubah mengikuti dinamika zaman. Pergantian generasi akan menghadirkan atlet-atlet baru dengan kemampuan yang berbeda. Akan tetapi, nilai-nilai yang melandasi perjuangan Tapak Suci tidak boleh ikut berubah. Nilai itulah yang menjadi pembeda antara Tapak Suci dan perguruan pencak silat lainnya.

Dalam konteks inilah tema "Berakar Tradisi" menemukan maknanya. Akar bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang memungkinkan pohon terus bertumbuh. Semakin tinggi pohon menjulang, semakin kuat pula akar yang dibutuhkan untuk menopangnya. Begitu pula organisasi. Semakin besar prestasi yang diraih, semakin besar pula kebutuhan untuk memperkuat fondasi ideologi, kaderisasi, dan dakwah agar pertumbuhan itu tidak kehilangan arah.

Ketika Rumah Sendiri Belum Menjadi Pilihan

Di balik deretan prestasi yang membanggakan, terdapat kenyataan yang layak menjadi bahan perenungan bersama. Di berbagai daerah, masih dijumpai putra-putri Muhammadiyah yang memilih bergabung dengan perguruan pencak silat lain. Sebagian bahkan merasa lebih dekat dengan organisasi di luar lingkungan Persyarikatan daripada dengan Tapak Suci yang sejatinya lahir dari rahim Muhammadiyah sendiri.

Fenomena tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi. Di banyak tempat, Tapak Suci tetap menjadi pilihan utama warga Muhammadiyah. Namun, kenyataan bahwa masih ada kader muda yang lebih tertarik pada perguruan lain merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan. Organisasi yang matang tidak akan buru-buru menyalahkan generasi muda atas pilihan mereka. Sebaliknya, organisasi akan terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam proses pembinaan sehingga Tapak Suci belum sepenuhnya menjadi rumah yang paling dirindukan?

Pertanyaan ini penting, sebab loyalitas tidak pernah lahir dari sekadar status keanggotaan. Loyalitas tumbuh dari pengalaman, kedekatan emosional, keteladanan, dan keyakinan bahwa organisasi benar-benar memberi ruang untuk bertumbuh. Seorang siswa akan merasa memiliki apabila ia tidak hanya diajarkan teknik bertarung, tetapi juga dibimbing memahami mengapa ia berlatih, untuk siapa kemampuan itu digunakan, dan nilai apa yang harus dijaga ketika kelak menjadi pendekar.

Rumah yang baik bukan hanya menyediakan tempat untuk berkumpul. Rumah juga menghadirkan rasa aman, menumbuhkan ikatan batin, dan membuat setiap penghuninya merasa bangga menjadi bagian darinya. Dalam konteks inilah Tapak Suci perlu terus memperkuat dirinya sebagai ruang pembinaan yang tidak hanya melahirkan atlet, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran ideologis para anggotanya.

Tidak berarti kualitas pembinaan Tapak Suci selama ini kurang baik. Justru sebaliknya, sistem pendidikan Tapak Suci telah memiliki fondasi yang kuat. Materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sudah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan, termasuk dalam Ujian Kenaikan Tingkat (UKT). Kehadiran materi tersebut menunjukkan bahwa Tapak Suci tetap menjaga identitasnya sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang menjadikan dakwah sebagai orientasi perjuangan.

Persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya materi tersebut, melainkan pada intensitas internalisasinya dalam kehidupan organisasi sehari-hari.

Di banyak gelanggang, latihan rutin secara wajar lebih banyak difokuskan pada penguasaan teknik dasar, jurus, fisik, tanding, dan persiapan menghadapi berbagai kejuaraan. Orientasi seperti ini dapat dipahami karena kemampuan teknis memang menjadi syarat utama bagi seorang pesilat. Namun, apabila hampir seluruh energi pembinaan terserap pada aspek teknis, sementara penguatan nilai hanya hadir menjelang ujian kenaikan tingkat, maka proses kaderisasi berpotensi kehilangan kedalamannya.

Padahal pembentukan karakter tidak pernah berlangsung secara instan. Ia lahir melalui pembiasaan yang terus-menerus, melalui keteladanan para pelatih, melalui percakapan sederhana sebelum latihan dimulai, melalui refleksi setelah latihan berakhir, bahkan melalui cara seorang pelatih memperlakukan para siswanya. Nilai-nilai besar tidak tumbuh karena dihafalkan menjelang ujian, melainkan karena dihidupkan dalam keseharian.

Di sinilah sesungguhnya peluang besar yang dimiliki Tapak Suci. Setiap latihan bukan hanya ruang untuk meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Kajian singkat tentang akhlak, diskusi mengenai sejarah Muhammadiyah, refleksi atas perjuangan para pendiri Tapak Suci, atau pembiasaan adab dalam berlatih merupakan bagian dari pendidikan yang tidak membutuhkan waktu panjang, tetapi dapat memberi dampak yang mendalam apabila dilakukan secara konsisten.

Apabila pembinaan seperti itu menjadi budaya di seluruh gelanggang, maka materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak lagi dipandang sebagai syarat administratif untuk naik tingkat. Ia akan menjadi bagian dari identitas yang hidup, membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengabdi setiap pendekar.

Pendekar Tapak Suci pada akhirnya tidak hanya dikenali karena ketangkasan geraknya di arena pertandingan. Ia juga dihormati karena keluasan ilmunya, kedewasaan akhlaknya, komitmennya terhadap Muhammadiyah, dan kesediaannya menjadi teladan di tengah masyarakat. Itulah karakter pendekar yang sejak awal dicita-citakan oleh para pendiri Tapak Suci.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi organisasi juga semakin kompleks. Generasi muda hidup dalam ruang digital yang menawarkan begitu banyak pilihan, termasuk dalam mencari komunitas, figur panutan, dan identitas diri. Persaingan Tapak Suci hari ini tidak lagi hanya dengan perguruan pencak silat lain, tetapi juga dengan berbagai aktivitas yang menyita perhatian generasi muda. Karena itu, pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan tradisi yang telah berjalan selama puluhan tahun. Diperlukan kreativitas, pendekatan yang lebih komunikatif, dan keteladanan yang mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan arah ideologis.

Modernisasi yang diusung dalam tema muktamar seharusnya dipahami dalam kerangka tersebut. Modern bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menemukan cara baru untuk menghidupkan nilai-nilai lama. Organisasi yang modern adalah organisasi yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi, memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas pembinaan, serta membangun komunikasi yang lebih efektif dengan generasi muda, tanpa melepaskan prinsip-prinsip yang menjadi fondasi kelahirannya.

Dengan demikian, modernisasi dan kaderisasi bukanlah dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Kemajuan organisasi akan memiliki makna apabila menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul dalam kemampuan, tetapi juga matang dalam karakter dan kokoh dalam komitmen dakwah.


Tidak ada komentar: